Dan dengan takut-takut aku menakar kadar bahagia ku, takut-takut justru akan jadi racun bagi diriku. Ku tuang sedikit demi sedikit bagian dari dirimu agar aku merasa lega setiap harinya, agar merasa tenang jiwaku. semakin kesini semakin candu rasanya terkadang aku tuang terlalu banyak sampai rasanya campur aduk perasaanku. Terkadang aku lupa aku punya batasan, dan ku lewati garis batas itu hanya agar lebih bahagia. Pikirku jika terus bersamamu maka aku akan abadi merasa senang, candu itu menyerangku sampai aku lupa bagaimana caranya berhenti, setiap hari ku takar lebih banyak bagian dari dirimu semakin hari terasa pula aku tergila-gila, meronta-ronta menginginkan dirimu. Salah, kataku. Ini sudah jauh salah, bukan begini cara cinta bekerja, jika benar harusnya kamu merasa cukup setiap satu hari dengan takaran biasanya. Ucapan selamat pagi dan ungkapan hangat lainnya harusnya sudah membuatmu siap menjalani hari yang panjang. Bukan mengemis, mengais-ngais perhatian sampai akhirnya kadar p...
Pertengkaran tiap malam yang tak kunjung usai itu kini entah kapan lalu sudah kita lupakan. Manusia penuntut seperti aku tak layak diperjuangkan mungkin itu yang terlintas dalam benakmu. Setelah malam yang panjang dan hari-hari melelahkan itu kita akhirnya benar-benar menyerah, melepaskan lalu hilang. Tiap malam di pertanyakan tapi bukankah jawabannya sudah jelas sejak lama? Ketika kita memperlakukan buruk satu sama lain, namun juga masih di selingi perlakuan manis pada akhirnya rasa lelah itu tak pernah benar-benar sembuh. Sudah menggerogoti ketulang-tulang berusaha sembuh tapi pusat nya saja sudah terserang. Perasaan, hati serta segalanya yg terinfeksi. Mau di perbaiki apanya lagi? Dear, meski bertahan ribuan kali ternyata takdir selalu punya jalan lain, mau di usahakan sekalipun kalo bukan kita yang ditakdirkan mau bagaimana lagi? Di sela-sela kerinduan doaku masih sama, semoga segala hal yang ada padamu tetap baik-baik saja. Aku tau aku bukanlah hal besar, kehilanganku takkan mempe...