Pertengkaran tiap malam yang tak kunjung usai itu kini entah kapan lalu sudah kita lupakan. Manusia penuntut seperti aku tak layak diperjuangkan mungkin itu yang terlintas dalam benakmu. Setelah malam yang panjang dan hari-hari melelahkan itu kita akhirnya benar-benar menyerah, melepaskan lalu hilang. Tiap malam di pertanyakan tapi bukankah jawabannya sudah jelas sejak lama? Ketika kita memperlakukan buruk satu sama lain, namun juga masih di selingi perlakuan manis pada akhirnya rasa lelah itu tak pernah benar-benar sembuh. Sudah menggerogoti ketulang-tulang berusaha sembuh tapi pusat nya saja sudah terserang. Perasaan, hati serta segalanya yg terinfeksi. Mau di perbaiki apanya lagi? Dear, meski bertahan ribuan kali ternyata takdir selalu punya jalan lain, mau di usahakan sekalipun kalo bukan kita yang ditakdirkan mau bagaimana lagi? Di sela-sela kerinduan doaku masih sama, semoga segala hal yang ada padamu tetap baik-baik saja. Aku tau aku bukanlah hal besar, kehilanganku takkan mempe...
Aku tidak mencarimu lagi. Tidak dalam tumpukan ingatan atau album-album lama. Aku berhenti melangkah sejenak takut-takut menoleh kebelakang apa kau masih berdiri di sana, memastikan bahwa aku benar-benar sendiri kali ini, lengang bahkan dalam bentuk mimpi atau bayangan kau enggan hadir. Samar-samar terkadang garis bibirmu masih terlintas di kepala, terkadang aku tak sengaja berlinang air mata. Kurasa perjalanan cukup lama itu kini sudah berakhir. Hal yang tak pernah di mulai itu juga kini tak memiliki kata akhir, ia hanya selesai, tanpa sepatah kata, tanpa aba-aba. Dua manusia yang memilih menyerah pada jalan yang pernah mereka lalui bersama, memilih untuk merubah haluan, menceburkan diri lalu tenggelam di samudera yang dalam. Gelap Dingin Tak berniat kembali. Demi merasa baik-baik saja mereka hanya diam, tak ada patah kata atau sekedar saling sapa. Mereka memilih sembuh dengan caranya masing-masing. Menyelam ke kedalaman lalu mati pelan-pelan.