Langsung ke konten utama

Tamat

 


Cerita soal dua anak manusia yang dulu saling berpegang erat kini memilih mengalah satu sama lain, tidak lagi saling menghubungi atau bertanya "bagaimana hari ini?"

Bukankah seharusnya rencana masa depan mereka nampak indah dan megah? Membaca buku di teras rumah dengan dua cangkir kopi yang masih panas. Bukankah itu sudah sangat istimewa?

Mengapa kisah cinta orang lain terlampau manis sedangkan kisah kita begitu pahit? Mengapa setiap kali melihat sepasang kekasih duduk di salah satu kursi cafe terlihat sangat harmonis sedangkan kita berjarak sangat jauh seolah dua orang yg baru berkenalan di hari itu juga? Bukan kah sudah cukup lama kita saling menggenggam perasaan masing-masing Mengapa kita terlihat seperti dua orang asing?
.........
Saya masih berjalan di arah yg sama, menuju rencana-rencana masa depan yang megah itu, bedanya sekarang tak lagi ada engkau yang mengiringi berjalan sambil menggenggam tangan ku, kita berjalan masing-masing...

Semakin lama kita berjalan semakin terasa bahwa genggaman kita semakin rapuh, bagaimana ini? Saya belum siap patah hati. Saya belum siap untuk melupakan, tapi pada akhirnya
Kau memilih jalan yang lain sebab tak bisa memperlambat langkah mu menunggu saya yang langkah nya terlalu lamban.

Pada akhirnya Kata berpisah itu tidak terelakkan...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bu, Masih Tetap Ku Doakan

Bu titip salam untuk ayahku, aku tidak berani menceritakannya sendiri sebab takut ia sedih karena aku sedikit merasa tersakiti.  Bu, Maafkan aku karena ku pikir aku mampu menjaga dan menemaninya sampai tua sebab ternyata angan itu hanyalah awan hujan yang seketika berubah jadi badai untuk diriku sendiri.  Ku coba peluk raganya ku coba memahami hati dan sedihnya, ku temani bahagianya. Kucoba untuk ada seperti yang ibu minta saat masih di ranjang rumah sakit. Ku usahakan semuanya. Ku tau dia orang baik sebab ibu yang bilang demikian, sebab ibu orang baik karena itu aku ingin bersamanya. Bu ternyata aku salah, ku pikir perempuan baik juga pasti akan melahirkan laki-laki baik, ku pikir aku cukup untuknya ku pikir ia cukup bangga dengan aku ada di sisinya kupikir perasaan iba, perhatian dan kasih sayang yang ku curahkan untuknya adalah apa yang akan aku terima juga.  Hari itu ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dengan duniaku, masih ku pegang erat janjinya ketika ia bil...

Untuk 1 hari yang melelahkan kamu butuh kalimat ini

Teruntuk siapapun yang sudah berjuang berjalan di jalan yang tidak mudah, sudah mau melangkah demi langkah, hingga akhirnya di titik ini, mari berterima kasih kepada diri kita sendiri. Untuk segala kerikil yang menghantam pelan di hidup kita ataupun angin kencang yang  menerpa hati ringkih kita yang setiap kali berusaha kuat bertahan untuk hidup satu hari lagi, mari berterima kasih kepada diri sendiri. Untuk orang-orang yang sudah bertahan dan menjadi kuat untuk satu detik saja, mari ucapakan terima kasih sekali lagi untuk tidak menyerah dengan dirimu sendiri. Mari apresiasi hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele karena satu kali hembusan napas yang kamu keluarkan pun masih menjadi manfaat bagi pohon yang mungkin ada di seberang jalan sana atau rumput kecil yang ada di ujung kelingking kaki mu. Kamu berharga❤️

Aku Bisa Apa?

Kepala riuh berkecamuk, katamu aku tak bisa menerima kurang mu yang satu itu. "Menjadi diam" Menjadi diam bagimu adalah kurang sebab mungkin aku terlalu berisik, padahal mungkin bagi sebagian manusia berisik adalah kurang. Tapi keduanya bukanlah kekurangan ia adalah sifat alamiah manusia ketika di hadapkan pada sebuah sesuatu, sebuah masalah, sebuah senang atau sebuah yang lain yang mungkin entah apa. Ku bilang aku terima semua yang ada padamu tapi kamu bersikeukuh aku adalah orang jahat sebab tak bisa memahami kurang mu dan ku katakan kita tidak sedang bertengkar soal kurang yang kita punya, kita hanya tidak semencinta sebesar itu sebab itu kita hanya bisa saling menyalahkan dan saling bekeras kepala. Ucapmu tidak kasar tapi tindakan mu menyakitkan, berkali-kali ku maafkan berkali-kali ku yakinkan perasaanku bahwa aku bisa bertahan tapi luka-luka itu berkumpul, satu per satu mulai menusuk menggerogoti hingga ke tulang dadaku menembus hatiku lalu membusuk menjadi kecewa yan...