Langsung ke konten utama

Happy Ending?

 Beberapa perasaan yang sudah tak bisa di genggam memang seharusnya di lepaskan, bukan begitu?

Apapun yang di paksakan nyatanya tak akan menemukan happy ending. Tapi sejak kecil segala dongeng yang kita dengar bukannya semua tentang happy ending? Kita di ajarkan untuk sabar dan hidup dengan bahagia itu kan tujuan manusia???

 Tapi nyatanya hidup tidak melulu tentang bahagia part paling menakutkan masih banyak di bab bab selanjutnya, melelahkan tentu saja... tapi kita bisa memilih kan dengan siapa kita melalui semua cerita itu, melanjutkan sisa bab nya hingga tamat dan..

 Happy Ending.

Karena sesungguhnya hidup berdampingan itu 90%nya adalah dengan bicara, bercengkrama, menentukan kita akan punya rumah dimana tanaman apa yang akan kita tanam dihalaman depan, dimana tempat favorit kita menikmati secangkir kopi, siapa nama peliharaan kita nanti, dimana anak kita akan sekolah, apa part kesukaannya dalam cerita ini atau dongeng apa yang akan kita ceritakan malam ini untuk mengantar tidurnya. 

Tapi... jika saat ini untuk sekedar berbagi cerita saja tidak nyambung bagaimana kita melanjutkan sisanya? Bagaimana jika kita menua dengan penuh konflik salah paham? Banyak berbohong banyak sekali alasan klise dan tidak punya selera humor yang cocok apa bisa tetap di sebut happy ending? Itu kan yang kita cari? Bagaimana kita bisa hidup saling menghormati jika nada bicara saja tanpa sengaja meninggi tidak ada pembicaraan yang seharusnya kita bicarakan mengenai masa depan... bukannya mimpi kita sama?

Cinta itu sederhana, manusia lah yang membuatnya rumit, keinginan manusia cuman bahagia tapi kebahagian setiap manusia berbeda itulah yang rumit... 

Saya menginginkan kita bisa menikmati membaca buku bersama sambil mendengar musik akustik belum tentu kamu mau, kamu lebih senang dengan game soccer mu, saya senang menari di iringi lagu tapi kamu tidak pernah mengajak saya untuk menari bersama, saya senang menonton film fantasi kamu tidak senang dengan adegan fiksi...

Saya bisa melukis lekuk senyum wajah mu di secarik kertas , saya bisa mengubah mu menjadi lirik sebuah lagu cinta,  tapi kamu bahkan tidak bisa mengucapkan kata-kata manis dengan mesra. Bukankah cinta itu sederhana? Lalu mengapa kita berbeda? Bukankah tujuan jita sama? Happy Ending kan?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bu, Masih Tetap Ku Doakan

Bu titip salam untuk ayahku, aku tidak berani menceritakannya sendiri sebab takut ia sedih karena aku sedikit merasa tersakiti.  Bu, Maafkan aku karena ku pikir aku mampu menjaga dan menemaninya sampai tua sebab ternyata angan itu hanyalah awan hujan yang seketika berubah jadi badai untuk diriku sendiri.  Ku coba peluk raganya ku coba memahami hati dan sedihnya, ku temani bahagianya. Kucoba untuk ada seperti yang ibu minta saat masih di ranjang rumah sakit. Ku usahakan semuanya. Ku tau dia orang baik sebab ibu yang bilang demikian, sebab ibu orang baik karena itu aku ingin bersamanya. Bu ternyata aku salah, ku pikir perempuan baik juga pasti akan melahirkan laki-laki baik, ku pikir aku cukup untuknya ku pikir ia cukup bangga dengan aku ada di sisinya kupikir perasaan iba, perhatian dan kasih sayang yang ku curahkan untuknya adalah apa yang akan aku terima juga.  Hari itu ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dengan duniaku, masih ku pegang erat janjinya ketika ia bil...

Untuk 1 hari yang melelahkan kamu butuh kalimat ini

Teruntuk siapapun yang sudah berjuang berjalan di jalan yang tidak mudah, sudah mau melangkah demi langkah, hingga akhirnya di titik ini, mari berterima kasih kepada diri kita sendiri. Untuk segala kerikil yang menghantam pelan di hidup kita ataupun angin kencang yang  menerpa hati ringkih kita yang setiap kali berusaha kuat bertahan untuk hidup satu hari lagi, mari berterima kasih kepada diri sendiri. Untuk orang-orang yang sudah bertahan dan menjadi kuat untuk satu detik saja, mari ucapakan terima kasih sekali lagi untuk tidak menyerah dengan dirimu sendiri. Mari apresiasi hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele karena satu kali hembusan napas yang kamu keluarkan pun masih menjadi manfaat bagi pohon yang mungkin ada di seberang jalan sana atau rumput kecil yang ada di ujung kelingking kaki mu. Kamu berharga❤️

Aku Bisa Apa?

Kepala riuh berkecamuk, katamu aku tak bisa menerima kurang mu yang satu itu. "Menjadi diam" Menjadi diam bagimu adalah kurang sebab mungkin aku terlalu berisik, padahal mungkin bagi sebagian manusia berisik adalah kurang. Tapi keduanya bukanlah kekurangan ia adalah sifat alamiah manusia ketika di hadapkan pada sebuah sesuatu, sebuah masalah, sebuah senang atau sebuah yang lain yang mungkin entah apa. Ku bilang aku terima semua yang ada padamu tapi kamu bersikeukuh aku adalah orang jahat sebab tak bisa memahami kurang mu dan ku katakan kita tidak sedang bertengkar soal kurang yang kita punya, kita hanya tidak semencinta sebesar itu sebab itu kita hanya bisa saling menyalahkan dan saling bekeras kepala. Ucapmu tidak kasar tapi tindakan mu menyakitkan, berkali-kali ku maafkan berkali-kali ku yakinkan perasaanku bahwa aku bisa bertahan tapi luka-luka itu berkumpul, satu per satu mulai menusuk menggerogoti hingga ke tulang dadaku menembus hatiku lalu membusuk menjadi kecewa yan...