Kepala riuh berkecamuk, katamu aku tak bisa menerima kurang mu yang satu itu. "Menjadi diam"
Menjadi diam bagimu adalah kurang sebab mungkin aku terlalu berisik, padahal mungkin bagi sebagian manusia berisik adalah kurang. Tapi keduanya bukanlah kekurangan ia adalah sifat alamiah manusia ketika di hadapkan pada sebuah sesuatu, sebuah masalah, sebuah senang atau sebuah yang lain yang mungkin entah apa.
Ku bilang aku terima semua yang ada padamu tapi kamu bersikeukuh aku adalah orang jahat sebab tak bisa memahami kurang mu dan ku katakan kita tidak sedang bertengkar soal kurang yang kita punya, kita hanya tidak semencinta sebesar itu sebab itu kita hanya bisa saling menyalahkan dan saling bekeras kepala.
Ucapmu tidak kasar tapi tindakan mu menyakitkan, berkali-kali ku maafkan berkali-kali ku yakinkan perasaanku bahwa aku bisa bertahan tapi luka-luka itu berkumpul, satu per satu mulai menusuk menggerogoti hingga ke tulang dadaku menembus hatiku lalu membusuk menjadi kecewa yang teramat berbau.
Di ratusan kesempatan kita berdoa bahwa kita adalah pasang yang tertulis di langit tapi kita hanya bisa ber asa tanpa tau rencana yang maha kuasa, kita berupaya merangkak dari dosa-dosa di antara doa yang kita panjatkan dan berharap Tuhan hanya mendengar yang baik-baiknya saja, kita berharap demikian padahal kita tau Ia Maha Mengetahui.
Kita hanya celaka, Tuhan hanya Marah. Tapi ia tetap menyayangi kita. Tapi kadang kala manusia terlalu berbesar kepala dan kita berharap kita hanya bertemu hal-hal baik tapi tuhan punya banyak hak atas segala rencana lain yang Ia buat.
Dan kita tidak terjebak, kita hanya sedang terperosok tapi Tuhan memberi waktu agar kita sadar bahwa satu-satunya penolong hanyalah dia. Dan jika ia berkehendak dia akan menyatukan kita di kemungkinan terbaik yang sudah ia rencanakan.

Komentar
Posting Komentar