Bu titip salam untuk ayahku, aku tidak berani menceritakannya sendiri sebab takut ia sedih karena aku sedikit merasa tersakiti.
Bu, Maafkan aku karena ku pikir aku mampu menjaga dan menemaninya sampai tua sebab ternyata angan itu hanyalah awan hujan yang seketika berubah jadi badai untuk diriku sendiri.
Ku coba peluk raganya ku coba memahami hati dan sedihnya, ku temani bahagianya. Kucoba untuk ada seperti yang ibu minta saat masih di ranjang rumah sakit. Ku usahakan semuanya. Ku tau dia orang baik sebab ibu yang bilang demikian, sebab ibu orang baik karena itu aku ingin bersamanya.
Bu ternyata aku salah, ku pikir perempuan baik juga pasti akan melahirkan laki-laki baik, ku pikir aku cukup untuknya ku pikir ia cukup bangga dengan aku ada di sisinya kupikir perasaan iba, perhatian dan kasih sayang yang ku curahkan untuknya adalah apa yang akan aku terima juga.
Hari itu ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dengan duniaku, masih ku pegang erat janjinya ketika ia bilang akan kembali menemuiku di masa depan dengan langkah yang lebih mantap. Sedikit patah hatiku tapi tetap ku doakan hanya hal-hal baik yang menghampiri dia. Sebab aku tau niat nya baik sebab aku tau dia orang baik. Tapi sekali lagi bu, maaf aku salah sangka.
Malam itu selesai ku panjatkan doa-doa baik untuk anak ibu, seorang wanita yang bertampang hangat mendatangi ku, wajahnya tidak asing. Wanita yang dia bilang bukan siapa-siapa, hanya rekan kerja, tidak ada hubungan apa-apa. Berbicara hal yang tak mampu aku proses dengan akal sehat ku. Sekilas ku coba tetap sadar dan waras agar tetap mendengarkan apa yang dia katakan, sejujurnya dada ku berkecamuk rasanya aku marah terhadap dia dan diriku sendiri, rasanya selama ini aku tetap menolak kenyataan dan terus membodohi diriku sendiri.
Wanita itu dan anak ibu menghancurkan perasaan ku.
Perasaan yang susah payah aku bangun agar aku tetap menjaga wasiat ibu dengan baik. Bu, tak sanggup rasanya aku bercerita kepada Ayah, Ayah pasti bersedih karena melihat aku menjadi lemah. Bu jangan bilang ke Ayah ya, cukup bilang aku rindu padanya saja.
Bu, ternyata apa yang menurutku bisa menjadi mudah justru banyak cobaannya. Setelah berkelahi dengan batinku sendiri, mencoba iklas dengan terungkapnya kebenaran aku mencoba memaafkan diri sendiri, memaafkan siapa yang sudah melukai perasaan ku. Teringat saat aku pulang dari berkunjung melapalkan doa-doa di rumah ibu dan bertemu dengannya di sana, di saat air mata kami tercurah satu sama lain terlapal satu janji yang kini sangat basi dan jijik ketika terbesit kembali di ingatan ku.
Bu meskipun sudah ku coba untuk iklaskan, tak pernah ku doakan hal jahat untuk mereka. Tak pernah aku mencoba untuk mencari kabar atau apapun yang berhubungan dengan mereka sebab rasanya sakit sekali. Sungguh perasaan apalagi yang kini menimpaku ketika aku hanya diam saja dan menyembuhkan segala luka yang aku terima, ku dengar kabar buruk yang menyinggung namaku.
Sungguh sudah tak ada tenagaku bu. Fitnah-fitnah itu terus menghantam ku bagai belati dari segela penjuru. Bu mengapa anak mu sedemikian melukai ku? Bukankah sebelumnya kami baik-baik saja? Bukankah begitu yang ibu bilang? dia akan menjagaku, melindungi ku, menemaniku? Lalu kenapa dia bagai senjata yang tak pernah cukup sekali untuk membunuh perasaan ku?
Kenapa seolah dia melempar batu kepadaku lalu berpura-pura dia yang berdarah dan terluka? Kenapa dia mengatakan bahwa akulah yang jahat, aku yang meninggalkannya demi laki-laki lain? Bukan kah wanita itu yang mendatangi ku duluan dan mengatakan yang sebenarnya terjadi? Bu kenapa anak ibu seperti itu? Bu sungguh dia bukan seperti yang ku kenal sebelumnya
Bu, maaf jika aku perlahan membenci anak ibu. Bu, maaf aku tidak bisa menepati janji itu.
Tapi tetap hanya doa-doa baik yang ku panjatkan untuknya.
.story from anyonimous.

Komentar
Posting Komentar