Di perjalanan pulang tengah malam kali ini udaranya cukup dingin, kali ini langitnya cerah sedikit sebab dapat dilihat satu dua bintang di beberapa titik, lampu-lampu redup itu cukup terang untuk menyinari tepi jalan yang lengang dan basah sehabis hujan. Sinarnya tidak terlalu terang untuk seisi kota tapi itu cukup untuk membuat tidak tersesat. Hanya orang mabuk dan bodoh jika ia tetap tidak bisa menemukan arah pulang.
Tapi apakah itu cukup menghibur diri dari lara yang sedang tertata di dalam kepala, maksud ku lampu-lampu dan satu dua bintang itu?
Menghidupkan perasaan yang sudah mati adalah tindakan sia-sia tapi cuman itu isi kepala hari ini.
Kalau aku panggil sekali lagi namamu apakah jawaban telpon itu akan berubah menjadi tulisan detik menit atau hanya akan berdering sampai selesai?
Kalau pulang adalah satu-satunya cara untuk bertemu dengan mu yang ku sebut rumah apakah akan tetap ada pintu yang masih terbuka? Atau rumah itu sudah di isi dengan penghuni baru? Ini sudah tengah malam jadi ku harap ada selimut dan dekap hangat disana. Tidak apa-apa jika itu sekedar berupa pengharapan.
Ini sebenarnya tidak lah rumit jika di buat sederhana, kalau seseorang mengucapkan hallo tuan hanya harus balik menyapanya kalau seseorang memanggil namamu tuan hanya harus membalas panggilannya bukankah itu sederhana tuan?
Tidaklah sulit bagimu menggerakan jari-jarimu yang kasar itu untuk mengangkat dering sebuah telpon? Memang bukan dari orang penting bukan juga dari orang hebat atau istimewa, walau dia hanya satu orang dari segilintir banyak orang yang pernah kau temui dia hanya perempuan sederhana yang ingin tau kabar kekasihnya.
Tuan... ego itu tinggi tapi kadang kali merendahkannya sedikit tidak akan membuat mu hina...
Tapi sepertinya hatimu batu dan sudah terkunci rapat-rapat sehingga aku yang masih tersesat di jalan pulang ini tidak kunjung menemu arah kerumah.
Lampu-lampu redup pinggir kota itu ternyata tidak cukup terang untukku menemukan jalan pulang.
Aku tidak mencarimu lagi. Tidak dalam tumpukan ingatan atau album-album lama. Aku berhenti melangkah sejenak takut-takut menoleh kebelakang apa kau masih berdiri di sana, memastikan bahwa aku benar-benar sendiri kali ini, lengang bahkan dalam bentuk mimpi atau bayangan kau enggan hadir. Samar-samar terkadang garis bibirmu masih terlintas di kepala, terkadang aku tak sengaja berlinang air mata. Kurasa perjalanan cukup lama itu kini sudah berakhir. Hal yang tak pernah di mulai itu juga kini tak memiliki kata akhir, ia hanya selesai, tanpa sepatah kata, tanpa aba-aba. Dua manusia yang memilih menyerah pada jalan yang pernah mereka lalui bersama, memilih untuk merubah haluan, menceburkan diri lalu tenggelam di samudera yang dalam. Gelap Dingin Tak berniat kembali. Demi merasa baik-baik saja mereka hanya diam, tak ada patah kata atau sekedar saling sapa. Mereka memilih sembuh dengan caranya masing-masing. Menyelam ke kedalaman lalu mati pelan-pelan.

Komentar
Posting Komentar