Langsung ke konten utama

Redup


Di perjalanan pulang tengah malam kali ini udaranya cukup dingin, kali ini langitnya cerah sedikit sebab dapat dilihat satu dua bintang di beberapa titik, lampu-lampu redup itu cukup terang untuk menyinari tepi jalan yang lengang dan basah sehabis hujan. Sinarnya tidak terlalu terang untuk seisi kota tapi itu cukup untuk membuat tidak tersesat. Hanya orang mabuk dan bodoh jika ia tetap tidak bisa menemukan arah pulang.
Tapi apakah itu cukup menghibur diri dari lara yang sedang tertata di dalam kepala, maksud ku lampu-lampu dan satu dua bintang itu?

Menghidupkan perasaan yang sudah mati adalah tindakan sia-sia tapi cuman itu isi kepala hari ini.
Kalau aku panggil sekali lagi namamu apakah jawaban telpon itu akan berubah menjadi tulisan detik menit atau hanya akan berdering sampai selesai?

Kalau pulang adalah satu-satunya cara untuk bertemu dengan mu yang ku sebut rumah apakah akan tetap ada pintu yang masih terbuka? Atau rumah itu sudah di isi dengan penghuni baru?  Ini sudah tengah malam jadi ku harap ada selimut dan dekap hangat disana. Tidak apa-apa jika itu sekedar berupa pengharapan.

Ini sebenarnya tidak lah rumit jika di buat sederhana, kalau seseorang mengucapkan hallo tuan hanya harus balik menyapanya kalau seseorang memanggil namamu tuan hanya harus membalas panggilannya bukankah itu sederhana tuan?

Tidaklah sulit bagimu menggerakan jari-jarimu yang kasar itu untuk mengangkat dering sebuah telpon? Memang bukan dari orang penting bukan juga dari orang hebat atau istimewa, walau dia hanya satu orang dari segilintir banyak orang yang pernah kau temui dia hanya perempuan sederhana yang ingin tau kabar kekasihnya.
Tuan... ego itu tinggi tapi kadang kali merendahkannya sedikit tidak akan membuat mu hina...

Tapi sepertinya hatimu batu dan sudah terkunci rapat-rapat sehingga aku yang masih tersesat di jalan pulang ini tidak kunjung menemu arah kerumah.

Lampu-lampu redup pinggir kota itu ternyata tidak cukup terang untukku menemukan jalan pulang.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drowning

Aku tidak mencarimu lagi. Tidak dalam tumpukan ingatan atau album-album lama. Aku berhenti melangkah sejenak takut-takut menoleh kebelakang apa kau masih berdiri di sana, memastikan bahwa aku benar-benar sendiri kali ini, lengang bahkan dalam bentuk mimpi atau bayangan kau enggan hadir. Samar-samar terkadang garis bibirmu masih terlintas di kepala, terkadang aku tak sengaja berlinang air mata. Kurasa perjalanan cukup lama itu kini sudah berakhir. Hal yang tak pernah di mulai itu juga kini tak memiliki kata akhir, ia hanya selesai, tanpa sepatah kata, tanpa aba-aba. Dua manusia yang memilih menyerah pada jalan yang pernah mereka lalui bersama, memilih untuk merubah haluan, menceburkan diri lalu tenggelam di samudera yang dalam. Gelap Dingin Tak berniat kembali. Demi merasa baik-baik saja mereka hanya diam, tak ada patah kata atau sekedar saling sapa. Mereka memilih sembuh dengan caranya masing-masing. Menyelam ke kedalaman lalu mati pelan-pelan. 

Bu, Masih Tetap Ku Doakan

Bu titip salam untuk ayahku, aku tidak berani menceritakannya sendiri sebab takut ia sedih karena aku sedikit merasa tersakiti.  Bu, Maafkan aku karena ku pikir aku mampu menjaga dan menemaninya sampai tua sebab ternyata angan itu hanyalah awan hujan yang seketika berubah jadi badai untuk diriku sendiri.  Ku coba peluk raganya ku coba memahami hati dan sedihnya, ku temani bahagianya. Kucoba untuk ada seperti yang ibu minta saat masih di ranjang rumah sakit. Ku usahakan semuanya. Ku tau dia orang baik sebab ibu yang bilang demikian, sebab ibu orang baik karena itu aku ingin bersamanya. Bu ternyata aku salah, ku pikir perempuan baik juga pasti akan melahirkan laki-laki baik, ku pikir aku cukup untuknya ku pikir ia cukup bangga dengan aku ada di sisinya kupikir perasaan iba, perhatian dan kasih sayang yang ku curahkan untuknya adalah apa yang akan aku terima juga.  Hari itu ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dengan duniaku, masih ku pegang erat janjinya ketika ia bil...

Never Enough

Dan dengan takut-takut aku menakar kadar bahagia ku, takut-takut justru akan jadi racun bagi diriku. Ku tuang sedikit demi sedikit bagian dari dirimu agar aku merasa lega setiap harinya, agar merasa tenang jiwaku. semakin kesini semakin candu rasanya terkadang aku tuang terlalu banyak sampai rasanya campur aduk perasaanku. Terkadang aku lupa aku punya batasan, dan ku lewati garis batas itu hanya agar lebih bahagia. Pikirku jika terus bersamamu maka aku akan abadi merasa senang, candu itu menyerangku sampai aku lupa bagaimana caranya berhenti, setiap hari ku takar lebih banyak bagian dari dirimu semakin hari terasa pula aku tergila-gila, meronta-ronta menginginkan dirimu. Salah, kataku. Ini sudah jauh salah, bukan begini cara cinta bekerja, jika benar harusnya kamu merasa cukup setiap satu hari dengan takaran biasanya. Ucapan selamat pagi dan ungkapan hangat lainnya harusnya sudah membuatmu siap menjalani hari yang panjang. Bukan mengemis, mengais-ngais perhatian sampai akhirnya kadar p...