Langsung ke konten utama

The end of us

Kita pernah membangun banyak mimpi yang megah bukan begitu, tapi itu layaknya kita membangun istana pasir tapi terlalu dekat dengan debur ombak laut... runtuh dan rata menyatu dengan daratan.


Tapi kita tidak pernah belajar dari pengalaman kala itu, kita tetap membangunnya sedikit dan pelan-pelan tapi yang menjadi kesalahan no satu adalah kita tidak membangunnya lebih jauh dari bibir pantai yang ombaknya cukup dekat menderu.

Mimpi kita cukup sederhana, sungguh... tapi itu adalah mimpi paling sulit yang mungkin pernah kita impikan sama-sama...
Rumah sederhana dengan halaman yang lumayan untuk menanam satu pohon dan beberapa jenis tumbuhan lainnya, setiap sore jika kita letih aku akan menyeduh satu gelas kopi dan satu gelas teh hangat sambil kau bercerita tentang betapa menyebalkannya pekerjaan mu dan aku sedang membaca buku sambil tertawa tipis. Mungkin nanti kita akan punya satu kucing dan kalo beruntung tuhan mungkin menitipkan beberapa malaikat kecil supaya rumah tetap terdengar ramai dan kita beragumen kecil tentang siapa yang tidak menyiram tanaman atau siapa yang terlalu sibuk dengan pekerjaan.
Di malamnya kita menonton film kesukaan atau menemani malaikat-malaikan kecil belajar membaca dan berhitung, kemudian esok hari kita mengantar mereka, hari pertama mereka menerima pendidikan dari orang lain.
Dan esoknya lagi kita tersadar kita sudah tua dan ketika mereka bertumbuh besar banyak hal mulai berubah, kemudian tersisa hanya kita berdua di dalam rumah itu, Hidup dan melanjutakan apa yang harus kita lanjutkan, menyiram tanaman atau menanam sayur sawi kesukaan. Mungkin..
Kita berharap panjang umur supaya tetap bisa saling memeluk dan mentertawakan garis kerut di wajah kita, uban-uban yang mulai mengusai kepala dan rambutmu yang sudah habis di makan usia.
.


Mimpi-mimpi yang kita panjatkan itu mungkin sudah jauh terkubur walaupun begitu kita tetap berusaha untuk bisa membangun mimpi lain yang jauh lebih sederhana supaya sedikit lebih gampang menjadi nyata, dan kita berharap kita menjadi dua orang bahagia yang bisa saling menerima takdir bahwa sebenarnya hidup itu selalu berjalan dan rencana Tuhan itu jauh lebih baik...

Tapi tolong, apapun yang terjadi di depan sana, apa yang sudah kita lalui jangan lah engkau jadikan penyesalan yang sungguh penyesalan itu hanya akan membuat hati sakit, perasaan dan menghancurkan rencana baik lainnya.

Jangan menyesali bahwa ternyata kita pernah menyia-nyiakan kehadiran orang lain, jangan mencari apa yang sudah di buang, jangan mengemis dengan perasaan yang sebelumnya sudah di hancurkan dan jangan pernah kita menghancurkan masa yang akan datang dengan mengingat semua hal yang pernah kita lalui bersama orang lain...

Jangan jadikan apa yang terjadi di masa lalu itu tembok untuk kamu bisa mendaki lebih tinggi, lebih jauh bahkan jika bisa kamu terbang melampauinya. Jadikan ia pengobat rasa sakit setelah apa yang kamu dan kita lalui, itu sebenarnya adalah hal yang lebih baik untuk kamu kedepannya. 
Tuhan tau yang lebih baik dan kamu pun harus menerima apa yang sudah di rencanakan untukmu.


Untuk aku, kamu dan kita semua semoga apa yang menjadi masa lalu,  seburuk apapun, sejahat apapun itu jadikan itu rasa iklas paling kuat yang pernah kamu buat.
Dan jadilah seorang yang sabarnya tidak membuat hal remeh lainnya menjadi luka. Karena kamu sudah melalui sejauh itu dan kamu bertumbuh menjadi manusia yang lebih kuat dan lebih hebat. ❤️

Terima kasih sudah hidup, kamu hebat dan teruslah tersenyum, selamat melunjatkan hidup orang-orang baik❤️


!

(Kalimat di atas adalah untuk semua orang yang pernah melalui masa manis, walau pada akhirnya semua rasa itu kadang bisa jadi memiliki perubahan yang tidak pernah bisa manusia duga-duga)


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bu, Masih Tetap Ku Doakan

Bu titip salam untuk ayahku, aku tidak berani menceritakannya sendiri sebab takut ia sedih karena aku sedikit merasa tersakiti.  Bu, Maafkan aku karena ku pikir aku mampu menjaga dan menemaninya sampai tua sebab ternyata angan itu hanyalah awan hujan yang seketika berubah jadi badai untuk diriku sendiri.  Ku coba peluk raganya ku coba memahami hati dan sedihnya, ku temani bahagianya. Kucoba untuk ada seperti yang ibu minta saat masih di ranjang rumah sakit. Ku usahakan semuanya. Ku tau dia orang baik sebab ibu yang bilang demikian, sebab ibu orang baik karena itu aku ingin bersamanya. Bu ternyata aku salah, ku pikir perempuan baik juga pasti akan melahirkan laki-laki baik, ku pikir aku cukup untuknya ku pikir ia cukup bangga dengan aku ada di sisinya kupikir perasaan iba, perhatian dan kasih sayang yang ku curahkan untuknya adalah apa yang akan aku terima juga.  Hari itu ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dengan duniaku, masih ku pegang erat janjinya ketika ia bil...

Untuk 1 hari yang melelahkan kamu butuh kalimat ini

Teruntuk siapapun yang sudah berjuang berjalan di jalan yang tidak mudah, sudah mau melangkah demi langkah, hingga akhirnya di titik ini, mari berterima kasih kepada diri kita sendiri. Untuk segala kerikil yang menghantam pelan di hidup kita ataupun angin kencang yang  menerpa hati ringkih kita yang setiap kali berusaha kuat bertahan untuk hidup satu hari lagi, mari berterima kasih kepada diri sendiri. Untuk orang-orang yang sudah bertahan dan menjadi kuat untuk satu detik saja, mari ucapakan terima kasih sekali lagi untuk tidak menyerah dengan dirimu sendiri. Mari apresiasi hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele karena satu kali hembusan napas yang kamu keluarkan pun masih menjadi manfaat bagi pohon yang mungkin ada di seberang jalan sana atau rumput kecil yang ada di ujung kelingking kaki mu. Kamu berharga❤️

Aku Bisa Apa?

Kepala riuh berkecamuk, katamu aku tak bisa menerima kurang mu yang satu itu. "Menjadi diam" Menjadi diam bagimu adalah kurang sebab mungkin aku terlalu berisik, padahal mungkin bagi sebagian manusia berisik adalah kurang. Tapi keduanya bukanlah kekurangan ia adalah sifat alamiah manusia ketika di hadapkan pada sebuah sesuatu, sebuah masalah, sebuah senang atau sebuah yang lain yang mungkin entah apa. Ku bilang aku terima semua yang ada padamu tapi kamu bersikeukuh aku adalah orang jahat sebab tak bisa memahami kurang mu dan ku katakan kita tidak sedang bertengkar soal kurang yang kita punya, kita hanya tidak semencinta sebesar itu sebab itu kita hanya bisa saling menyalahkan dan saling bekeras kepala. Ucapmu tidak kasar tapi tindakan mu menyakitkan, berkali-kali ku maafkan berkali-kali ku yakinkan perasaanku bahwa aku bisa bertahan tapi luka-luka itu berkumpul, satu per satu mulai menusuk menggerogoti hingga ke tulang dadaku menembus hatiku lalu membusuk menjadi kecewa yan...