Langsung ke konten utama

Pendidikan, Kesetaraan gender dan Menikah

 



Bener ya kalo wanita itu ketika sudah menikah kerjanya hanya di dapur saja, mengurus anak mengurus keluarga dan melayani suami.
Bener ya kalo wanita menikah di usia 30 tahun katanya tidak laku, katanya perawan tua dan blablabla walaupun sebenarnya dia bisa saja bekerja punya karir yang baik punya attitude yg baik, dan sukses dalam hidupnya tapi kalau dia blum menikah di usia segitu pandangan masyarakat hanya tertuju "kok belum nikah-nikah? " rasanya saya ingin menampar keadaan tapi memang begitu adanya.

Sedih karna pandangan tersebut tidak berubah dari jaman nenek moyang kita bahkan dari jaman penjajahan belum di mulai, walaupun katanya menjunjung kesetaran gender tapi ya begitulah masyarakat memandangnya.

Katanya juga pendidikan tuh gak penting buat wanita karna ujung-ujung nya juga di dapur, ada beberapa teman saya di SMP dulu harus putus sekolah karena orang tuanya berpendapat demikian, beberapa dari mereka padahal mempunyai bakat dan kecerdasan yang gak tersalurkan. Saya ingat kata bapak Mohammad Hatta

"JIKA KAMU MENDIDIK SATU LAKI-LAKI KAMU HANYA MENDIDIK SATU ORANG, NAMUN JIKA KAMU MENDIDIK SATU PEREMPUAN MAKA KAMU MENDIDIK SATU GENERASI"

See???
Kembali ke topik utama, Menikah. Jika ingin membahas soalan seperti ini jari dan mulut saya terasa berat untuk menyampaikan pendapat mengenai soalan Menikah.

Ada seorang sanak keluarga laki-laki saya yang berumur 40 an, tepat nya 43 tahun. Dia belum menikah walau sudah beberapa kali bertemu wanita baik. Bukan karena dia tidak ingin tapi mungkin saja belum ada yang cocok dan mungkin juga dia memikirkan kehidupan menikah. Bukan cuman persoalan tentang cinta-cintaan tapi juga tentang kehidupan di masa depan.

Ibu saya bercerita ketika beliau menikah di usia 19 tahun, wahhh kebetulan sekarang saya berusia 19 tahun, apakah sekarang waktunya saya menikah?😅

Tidak, saya rasa saya masih kekanak-kanakan dan belum siap untuk itu. Ibu saya bercerita ketika itu beliau putus sekolah di kelas 4 SD, orang tua pada jaman itu tidaklah terlalu peduli dengan pendidikan anak mereka, asalkan anak tersebut bekerja dan menikah pada saat nya, maka tunai sudah tugas mereka. Waktu itu Ayah saya berusia 6 tahun lebih tua dari ibu saya, Beliau tamatan smp.

Ketika saya bersekolah di bangku SD setiap bertanya soal pelajaran kepada ibu saya, ibu saya melemparkan tugas tersebut kepada ayah saya terutama soal menghitung. Saat kecil saya tidak pernah bertanya soal dari mana bayi itu berasal, kenapa kita bisa bernapas, kenapa kapal bisa mengambang di lautan, kenapa pesawat bisa terbang dan kenapa kita tidak bisa berjalan di air. Waktu itu saya ingin bertanya tapi terlalu takut, dan mungkin ketika saya bsrtanya pun mereka mungkin saja tidak bisa memberi tahu saya alasannya. saya bermain dengan teman-teman saya dan pada usia mulai beranjak remaja saya bisa belajar smua itu di sekolah dan beberapa buku yang tidak di ajarkan di sekolah.

Bagi kita yang berumat Islam, pendidikan agama sejak kecil sangat lah penting sebab kita di anjurkan wajib shalat di usia 7 tahun. Waktu kecil saya sering ikut shalat berjamaah di masjid, entah itu sepulang mengaji bersama teman atau di bulan ramadhan, saya benar-benar tidak tau niat shalat dari takbir sampai salam, saya menghapal nya ketika kelas 6 SD, sangat terlambat memang, bukan salah siapa-siapa sebab memang orang tua saya tidak tau mungkin. Karena mungkin juga sejak kecil mereka seperti saya.

Bagaimana jika seandainya saya tidak ingin belajar dan orang tua saya tidak terlalu peduli soal pendidikan saya, bagaimana jika saya hanya ingin melakukan hal yang saya pikir menyenangkan? Bagaimana jika sejak kecil saya tidak punya kesadaran bahwa ilmu itu penting untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik? Saya mungkin sudah menikah dan mempunyai anak tanpa pikir panjang, tugas saya hanya memberi mereka makan dan membesarkan mereka dan menunggu waktu ketika mereka menikah tanpa mendidik mereka dengan benar dengan ilmu-ilmu yang penting dan mereka akan berujung sama seperti saya.

Dan belum tentu itu semua mulus, belum lagi persoalan hubungan suami istri yang kurang baik, kurang komunikasi, tidak adanya kedewasaan pemikiran dan kekerasan rumah tangga akibat suami istri yang belum dewasa. Belum lagi keinginan yang hanya ingin senang-senang saha dan melupakan anak-anak dan juga konflik soal keuangan.

Sebagai wanita, dan calon ibu perempuan lah yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anak nya kelak, mengajarkan ilmu-ilmu dasar, mengenai yang boleh dan tidak, sebab dan akibat, menjawab pertanyaan sederhana mereka dengan tepat tanpa kesalah pahaman, Sebab sejak kecil anak harus terbiasa dengan hal baik agar kelak menjadi baik dan penerus yang baik.

Perempuan lah yang bertugas mencerdaskan generasi, bukan hanya perempuan laki-laki pun sama tugas nya.

Itulah tugas kesetaraan gender, mendapat pendidikan yang sama, Pengakuan yang sama penting nya.

Tapi kok bisa, pandangan masyarakah belum ada berubah-berubahnya. Andai saja pandangan tersebut di tempis dan di buang jauh-jauh.

Lagi-lagi soal perempuan, ada sebuah contoh kisah seserhana.
Seorang kluarga pas-pas an memiliki 2 orang anak laki-laki dan perempuan, mereka hanya mampu membiayai sekolah untuk satu anak, bisa kita tebak siapa yang akan bersekolah pastilah anak laki-laki karena orang tua dari keluarga tersebut berpikir jika kelak besar laki-laki lah yang akan menafkahi keluarga mereka maka pendidikan lebih penting untuk laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan, padahal dalam keluarga tersebut anak perempuan lah yang paling cerdas di banding anak laki-laki tapi orang tua mereka tetap menyekolahkan anak laki-laki.

Lagi-lagi kesetaraan gender.
Harapan saya semoga masyarakat dapat membuka mata dan hati mereka lebar-lebar, tentang pendidikan, menikah, dan kesetaraan gender sebab mereka berkaitan satu sama lain. Bukan untuk keegoisan diri tapi untuk berlangsuangnya kehidupan yang lebih baik, generasi yang lebih unggul dan bangsa yang lebih maju.

Bukankah kita semua menginginkan hidup yang lebih baik? Tentu saja, di mulai dari kesadaran diri sendiri lah itu semua akan terwujud.

Semoga tulisan saya dapat memberikan sedikit sisi positif untuk para readers, tidak ada sedikitpun dari tulisan saya bermaksud menyinggung ataupun melukai hati para readers. Selamat membaca❤

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bu, Masih Tetap Ku Doakan

Bu titip salam untuk ayahku, aku tidak berani menceritakannya sendiri sebab takut ia sedih karena aku sedikit merasa tersakiti.  Bu, Maafkan aku karena ku pikir aku mampu menjaga dan menemaninya sampai tua sebab ternyata angan itu hanyalah awan hujan yang seketika berubah jadi badai untuk diriku sendiri.  Ku coba peluk raganya ku coba memahami hati dan sedihnya, ku temani bahagianya. Kucoba untuk ada seperti yang ibu minta saat masih di ranjang rumah sakit. Ku usahakan semuanya. Ku tau dia orang baik sebab ibu yang bilang demikian, sebab ibu orang baik karena itu aku ingin bersamanya. Bu ternyata aku salah, ku pikir perempuan baik juga pasti akan melahirkan laki-laki baik, ku pikir aku cukup untuknya ku pikir ia cukup bangga dengan aku ada di sisinya kupikir perasaan iba, perhatian dan kasih sayang yang ku curahkan untuknya adalah apa yang akan aku terima juga.  Hari itu ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dengan duniaku, masih ku pegang erat janjinya ketika ia bil...

Untuk 1 hari yang melelahkan kamu butuh kalimat ini

Teruntuk siapapun yang sudah berjuang berjalan di jalan yang tidak mudah, sudah mau melangkah demi langkah, hingga akhirnya di titik ini, mari berterima kasih kepada diri kita sendiri. Untuk segala kerikil yang menghantam pelan di hidup kita ataupun angin kencang yang  menerpa hati ringkih kita yang setiap kali berusaha kuat bertahan untuk hidup satu hari lagi, mari berterima kasih kepada diri sendiri. Untuk orang-orang yang sudah bertahan dan menjadi kuat untuk satu detik saja, mari ucapakan terima kasih sekali lagi untuk tidak menyerah dengan dirimu sendiri. Mari apresiasi hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele karena satu kali hembusan napas yang kamu keluarkan pun masih menjadi manfaat bagi pohon yang mungkin ada di seberang jalan sana atau rumput kecil yang ada di ujung kelingking kaki mu. Kamu berharga❤️

Aku Bisa Apa?

Kepala riuh berkecamuk, katamu aku tak bisa menerima kurang mu yang satu itu. "Menjadi diam" Menjadi diam bagimu adalah kurang sebab mungkin aku terlalu berisik, padahal mungkin bagi sebagian manusia berisik adalah kurang. Tapi keduanya bukanlah kekurangan ia adalah sifat alamiah manusia ketika di hadapkan pada sebuah sesuatu, sebuah masalah, sebuah senang atau sebuah yang lain yang mungkin entah apa. Ku bilang aku terima semua yang ada padamu tapi kamu bersikeukuh aku adalah orang jahat sebab tak bisa memahami kurang mu dan ku katakan kita tidak sedang bertengkar soal kurang yang kita punya, kita hanya tidak semencinta sebesar itu sebab itu kita hanya bisa saling menyalahkan dan saling bekeras kepala. Ucapmu tidak kasar tapi tindakan mu menyakitkan, berkali-kali ku maafkan berkali-kali ku yakinkan perasaanku bahwa aku bisa bertahan tapi luka-luka itu berkumpul, satu per satu mulai menusuk menggerogoti hingga ke tulang dadaku menembus hatiku lalu membusuk menjadi kecewa yan...