Langsung ke konten utama

Metamorfosis🦋




     Anak kecil berlomba-lomba memamerkan mimpi mereka ketika besar ingin jadi apa, sama seperti kita dulu... ada yang ingin jadi Polisi, Guru, Dokter, Tentara bahkan Presiden. Keren.

     Kita juga dulu sama, ingin menjadi orang hebat dan banyak di kenang jasa nya. Menjadi anak kecil sungguh menyenangkan karena penuh semangat dan tekad yang kuat, memabara-bara layak daun kering di sulut api, banyak hal menyenangkan dapat di lakukan, banyak pula tawa menyegarkan telinga tak lekang di ingatan. Masa-masa di mana masalah terbesar hanya PR matematika.

     Setelah tumbuh menjadi manusia, aku sadar betapa berharga masa kecil itu. Rasanya belum siap menghadapi dunia dengan segala tumpah ruah dan masalahnya, dengan segala rintangan nya...

     Masa depan rasanya jadi momok paling di mengkhawatirkan dalam hidup. "Mau jadi apa?" , "mau hidup seperti apa?" " mau menjadi manusia seperti apa?" "Akan bagaimana hidup itu dinjalani?"

     Tatkala banyak hal memenuhi kepala kita soal permasalahan menjadi manusia, pikiran lainnya tiba-tiba hadir dari masa lalu.

     Penyesalan, rasa sakit hati, penghianatan, tidak percaya diri dan rasa tidak menyenangkan lainnya... juga beberapa hal yang tidak ingin kamu ingat selamanya justru muncul tiba-tiba.

     Rasa takut, khawatir, bingung, sedih, marah, campur aduk dalam satu emosi. Pikiran kusut hingga tak kunjung menemui titik tepi.

     Akhirnya malam itu kamu terjaga hingga subuh dengan mata sembab dan kantung mata yang menghitam, hingga akhirnya adzan subuh menyadarkan mu bahwa kamu sudah memikirkan hal yang tidak perlu dalam waktu yang lama.

Kita semua punya problematika nya masing-masing tentang metamorfosis menjadi manusia dewasa.

     Setelah menjadi dewasa kita sadar betapa kita merindukan masa kecil menyenangkan, lepas tanggung jawab dan tidak memikirkan banyak hal soal dunia.

     Lepas dari itu, manusia tetap tumbuh, usia hari demi hari menua. Pastilah tidak etis jika selalu punya pemikiran kekanak-kanakan yang hanya ingin main saja kerjaan nya.

     Maka dari itu lah, semesta memberi kita ujian di setiap langkah metamorfosis kita, kita di latih sabar, kuat, ber etika, mampu menyesuaikan keadaan dan berpikiri kritis menghadapi soal kehidupan.

     Sesungguhnya problem itu adalah media semesta memberi kita latihan dan langkah agar kita menjadi manusia.

Dan untuk Kamu dan Aku, kita semua,
Semoga kita semua semakin kuat dan dapat menjadi manusia dewasa sesungguhnya. Semesta pasti akan bangga.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bu, Masih Tetap Ku Doakan

Bu titip salam untuk ayahku, aku tidak berani menceritakannya sendiri sebab takut ia sedih karena aku sedikit merasa tersakiti.  Bu, Maafkan aku karena ku pikir aku mampu menjaga dan menemaninya sampai tua sebab ternyata angan itu hanyalah awan hujan yang seketika berubah jadi badai untuk diriku sendiri.  Ku coba peluk raganya ku coba memahami hati dan sedihnya, ku temani bahagianya. Kucoba untuk ada seperti yang ibu minta saat masih di ranjang rumah sakit. Ku usahakan semuanya. Ku tau dia orang baik sebab ibu yang bilang demikian, sebab ibu orang baik karena itu aku ingin bersamanya. Bu ternyata aku salah, ku pikir perempuan baik juga pasti akan melahirkan laki-laki baik, ku pikir aku cukup untuknya ku pikir ia cukup bangga dengan aku ada di sisinya kupikir perasaan iba, perhatian dan kasih sayang yang ku curahkan untuknya adalah apa yang akan aku terima juga.  Hari itu ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dengan duniaku, masih ku pegang erat janjinya ketika ia bil...

Untuk 1 hari yang melelahkan kamu butuh kalimat ini

Teruntuk siapapun yang sudah berjuang berjalan di jalan yang tidak mudah, sudah mau melangkah demi langkah, hingga akhirnya di titik ini, mari berterima kasih kepada diri kita sendiri. Untuk segala kerikil yang menghantam pelan di hidup kita ataupun angin kencang yang  menerpa hati ringkih kita yang setiap kali berusaha kuat bertahan untuk hidup satu hari lagi, mari berterima kasih kepada diri sendiri. Untuk orang-orang yang sudah bertahan dan menjadi kuat untuk satu detik saja, mari ucapakan terima kasih sekali lagi untuk tidak menyerah dengan dirimu sendiri. Mari apresiasi hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele karena satu kali hembusan napas yang kamu keluarkan pun masih menjadi manfaat bagi pohon yang mungkin ada di seberang jalan sana atau rumput kecil yang ada di ujung kelingking kaki mu. Kamu berharga❤️

Aku Bisa Apa?

Kepala riuh berkecamuk, katamu aku tak bisa menerima kurang mu yang satu itu. "Menjadi diam" Menjadi diam bagimu adalah kurang sebab mungkin aku terlalu berisik, padahal mungkin bagi sebagian manusia berisik adalah kurang. Tapi keduanya bukanlah kekurangan ia adalah sifat alamiah manusia ketika di hadapkan pada sebuah sesuatu, sebuah masalah, sebuah senang atau sebuah yang lain yang mungkin entah apa. Ku bilang aku terima semua yang ada padamu tapi kamu bersikeukuh aku adalah orang jahat sebab tak bisa memahami kurang mu dan ku katakan kita tidak sedang bertengkar soal kurang yang kita punya, kita hanya tidak semencinta sebesar itu sebab itu kita hanya bisa saling menyalahkan dan saling bekeras kepala. Ucapmu tidak kasar tapi tindakan mu menyakitkan, berkali-kali ku maafkan berkali-kali ku yakinkan perasaanku bahwa aku bisa bertahan tapi luka-luka itu berkumpul, satu per satu mulai menusuk menggerogoti hingga ke tulang dadaku menembus hatiku lalu membusuk menjadi kecewa yan...