Langsung ke konten utama

Menebar Kebaikan ❤


     Namanya Kai Umar...
Terbayang bagaimana terik matahari kala itu menyengat kulit keriput beliau di tengah perbatasan jalan tepat di depan lampu merah, berlindungkan payung usang miliknya atau terkadang hanya duduk tersandar di pohon kecil yang di tanam di perbatasan tersebut Kai Umar menunggu pelanggan, iya pelanggan, beliau berjualan kerupuk milik orang lain dengan mengambil upah.

     Siang itu saya tidak tau tepatnya tanggal berapa, di tengah pandemi Covid-19 ketika banyak orang di minta stay at home Kai Umar memilih mencari sejumput rezeki untuk dia dan istrinya demi sesuap nasi. Teriris melihat beliau setiap hari duduk di sana menenteng payung kepanasan.

     Kala itu sahabat saya dan rekan organisai amal nya "Markas Sedekah" sebutan mereka menyambangi Kai Umar yang tengah duduk terletih bersandar pada pohon di bawah terik matahari. Mereka memberikan sedikit bantuan berupa zakat untuk Kai Umar, saya tidak tau apa dan berapa yg di berikan mereka karena saat sahabat saya bercerita dia tidak ingin menyebutkan nya.

     Kai Umar tampak meneteskan air mata haru kala itu, dia bercerita dia sedih, saat pandemi corona saat ini sulit sekali bagi beliau mendafatkan rezeky yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pelanggan sepi, dia tidak bisa menjemput rezeki.

      Tersayat sekali melihat kakek setua Kai umar yang harus nya bersantai dirumah menikmati hari tua justru harus berkutat dengam debu jalanan, polusi, panas matahari ditambah kecemasan tertular virus corona. Pak umar masih tersenyum kala "Markas sedekah" pamit pergi kala itu sambil matanya masih berkaca-kaca.

      Organasi "Markas Rezeki" masih terus melanjutkan tugasnya untuk menebar kebaikan, bukan hanya kisah Kai Umar tapi juga sudah banyak orang yang mereka bantu sahabat saya kadang bercerita sambail menahan rasa sedih di matanya dia sering bilang "gak tega aja, seandainya kita yang di posisi tersebut bagaimana perasaan kita, kita juga pasti butuh bantuan"



"Tulisan ini di ikut sertakan dalam lomba blog menebar kebaikan yang di selenggarakan oleh Dompet Dhuafa"

Note:
Foto diambil pada saat Sahabat saya dan organisasinya menyambangi Kai Umar, maaf apabila kualitas gambar kurang baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drowning

Aku tidak mencarimu lagi. Tidak dalam tumpukan ingatan atau album-album lama. Aku berhenti melangkah sejenak takut-takut menoleh kebelakang apa kau masih berdiri di sana, memastikan bahwa aku benar-benar sendiri kali ini, lengang bahkan dalam bentuk mimpi atau bayangan kau enggan hadir. Samar-samar terkadang garis bibirmu masih terlintas di kepala, terkadang aku tak sengaja berlinang air mata. Kurasa perjalanan cukup lama itu kini sudah berakhir. Hal yang tak pernah di mulai itu juga kini tak memiliki kata akhir, ia hanya selesai, tanpa sepatah kata, tanpa aba-aba. Dua manusia yang memilih menyerah pada jalan yang pernah mereka lalui bersama, memilih untuk merubah haluan, menceburkan diri lalu tenggelam di samudera yang dalam. Gelap Dingin Tak berniat kembali. Demi merasa baik-baik saja mereka hanya diam, tak ada patah kata atau sekedar saling sapa. Mereka memilih sembuh dengan caranya masing-masing. Menyelam ke kedalaman lalu mati pelan-pelan. 

Bu, Masih Tetap Ku Doakan

Bu titip salam untuk ayahku, aku tidak berani menceritakannya sendiri sebab takut ia sedih karena aku sedikit merasa tersakiti.  Bu, Maafkan aku karena ku pikir aku mampu menjaga dan menemaninya sampai tua sebab ternyata angan itu hanyalah awan hujan yang seketika berubah jadi badai untuk diriku sendiri.  Ku coba peluk raganya ku coba memahami hati dan sedihnya, ku temani bahagianya. Kucoba untuk ada seperti yang ibu minta saat masih di ranjang rumah sakit. Ku usahakan semuanya. Ku tau dia orang baik sebab ibu yang bilang demikian, sebab ibu orang baik karena itu aku ingin bersamanya. Bu ternyata aku salah, ku pikir perempuan baik juga pasti akan melahirkan laki-laki baik, ku pikir aku cukup untuknya ku pikir ia cukup bangga dengan aku ada di sisinya kupikir perasaan iba, perhatian dan kasih sayang yang ku curahkan untuknya adalah apa yang akan aku terima juga.  Hari itu ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dengan duniaku, masih ku pegang erat janjinya ketika ia bil...

Never Enough

Dan dengan takut-takut aku menakar kadar bahagia ku, takut-takut justru akan jadi racun bagi diriku. Ku tuang sedikit demi sedikit bagian dari dirimu agar aku merasa lega setiap harinya, agar merasa tenang jiwaku. semakin kesini semakin candu rasanya terkadang aku tuang terlalu banyak sampai rasanya campur aduk perasaanku. Terkadang aku lupa aku punya batasan, dan ku lewati garis batas itu hanya agar lebih bahagia. Pikirku jika terus bersamamu maka aku akan abadi merasa senang, candu itu menyerangku sampai aku lupa bagaimana caranya berhenti, setiap hari ku takar lebih banyak bagian dari dirimu semakin hari terasa pula aku tergila-gila, meronta-ronta menginginkan dirimu. Salah, kataku. Ini sudah jauh salah, bukan begini cara cinta bekerja, jika benar harusnya kamu merasa cukup setiap satu hari dengan takaran biasanya. Ucapan selamat pagi dan ungkapan hangat lainnya harusnya sudah membuatmu siap menjalani hari yang panjang. Bukan mengemis, mengais-ngais perhatian sampai akhirnya kadar p...