Langsung ke konten utama

Phobia




Phobia...
Adalah Ketakutan pada suatu hal yang menurut kita mengerikan.
~~~

Hari itu, setelah semua tugas sekolah dan ujian selesai, hari libur di gunakan untuk banyak kegiatan, aku tak punya waktu istirahat yang cukup untuk sekedar berbaring membayangkan hal2 indah dan menyenangkan.

Aku memutuskan hari senin untuk istirahat dan berasantai, menikmati drama2 yg ku tonton. Aku ingin menikmati waktu2 ku sendirian. Tidak ingin di ganggu ataupun sekedar menghidupkan data seluler dan menerima pesan dari orang2.

Lelah? Iya sedikit. Lebih nya aku tidak mau menerima kenyataan menyakitkan dan melampiaskan nya dengan tidur seharian sambil menonton oppa2 di layar notebook ku.

Selasa
Rasa malas menghantui jiwa raga sungguh, astaga kenapa semalas ini buat berangkat sekolah. Hari itu, hal yg ingin sekali ku hindari ternyata juga ikut menghindar syukurlah... pagi jm 8 kantuk memenuhi mataku, biasaa... sebagai anak sekolahan dan lantai lab komputer waktu itu bersih dan nyaman sekali aku memutuskan untuk berbaring sejenak.

Sambil mendengarkan lagu dan rekaman2 cover penuh kenangan, aku memikirkan beberapa hal, contohnya
"Kehilangan".

mataku mulai berat, aku setengah sadar, antara tidur dan terjaga lalu aku merasakan sesuatu yang dingin.


tiba2 aku jatuh ke tempat yang sangat gelap dan sempit sekali, jatuh jauh ke dalam bumi tempat paling menyeramkan aku gak bisa liat apa2 selain setitik cahaya sebesar lubang pipa.

Sudah berapa jauh aku jatuh rasanya semakin sempit, napasku mulai sesak dan ketakutan menyilimuti seluruh pikiran ku,  aku berusaha naik dan berteriak sebisa ku, tidak ada satu pun orang yg mndengar.

Tanah yg ku pijak becek, basah dan kaki ku tenggelam hingga ke mata kaki, bahkan di lubang yg mngkin seukuran gorong2 itu aku tidak bisa bergerak sama sekali, ya tuhan ini sangat membuatku panik, aku semakin sulit bernapas. setiap kali aku mencoba memanjat tapi selalu gagal dan terpeleset, tempat nya kecil sekali bau lembab dan lumut2 licin membuatnya semakin sulit untuk di pijak. Aku berusaha berteriak sebisa ku, kepala ku berat aku merasakan pusing, aku mulai menangis sambil berteriak meminta tolong, tetap satu pun  orang tidak ada yg mendengar... aku panik, sungguh ini rasa takut yg sangat mengerikan.

Beberapa saat menangis dan panik seperti seekor tikus yang tercebur ke dalam bak air dan tak bisa naik ke permukaan, aku melihat cahaya di atas semakin hilang, dinding nya runtuh dan mataku tak bisa melihat apa, reruntuhan nya menimpaku aku berteriak dan tiba2 bangun dari tidur. Sudah berapa lama aku tidur aku lalu mundur menghimpitkan diri ke dekat meja, "ini benar mimpi buruk" aku terdiam sejenak mengatur deru napas, mataku tiba2 berair , dadaku terasa sakit, aku menangis... rasanya mengerikan sekali...

Terjebak pada sebuah sumur kecil, gelap, lembab, basah, bau, sendirian, kesepian, takut, dan tidak ada satupun orang yang tau...

Aku sangat takut dengan tempat sempit, aku takut terjatuh ke dalam sumur, atau bersembunyi di bawah kolong kasur, atau melewati gang yg sempit, aku juga takut melalu jalan yang terhimpit diantara dua gedung. Bahkan ketika main petak umpet aku ragu harus bersembunyi di dalam lemari.

Aku takut tersangkut, dan terjebak lalu sulit bernapas, kemudian panik dan kehabisan oksigen untuk bernapas, seperti berlahan lahan mati dan gak ada yang mengetahui aku sedang sekarat, sendirian, sakit, ketakutan.

Itu mengerikan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drowning

Aku tidak mencarimu lagi. Tidak dalam tumpukan ingatan atau album-album lama. Aku berhenti melangkah sejenak takut-takut menoleh kebelakang apa kau masih berdiri di sana, memastikan bahwa aku benar-benar sendiri kali ini, lengang bahkan dalam bentuk mimpi atau bayangan kau enggan hadir. Samar-samar terkadang garis bibirmu masih terlintas di kepala, terkadang aku tak sengaja berlinang air mata. Kurasa perjalanan cukup lama itu kini sudah berakhir. Hal yang tak pernah di mulai itu juga kini tak memiliki kata akhir, ia hanya selesai, tanpa sepatah kata, tanpa aba-aba. Dua manusia yang memilih menyerah pada jalan yang pernah mereka lalui bersama, memilih untuk merubah haluan, menceburkan diri lalu tenggelam di samudera yang dalam. Gelap Dingin Tak berniat kembali. Demi merasa baik-baik saja mereka hanya diam, tak ada patah kata atau sekedar saling sapa. Mereka memilih sembuh dengan caranya masing-masing. Menyelam ke kedalaman lalu mati pelan-pelan. 

Bu, Masih Tetap Ku Doakan

Bu titip salam untuk ayahku, aku tidak berani menceritakannya sendiri sebab takut ia sedih karena aku sedikit merasa tersakiti.  Bu, Maafkan aku karena ku pikir aku mampu menjaga dan menemaninya sampai tua sebab ternyata angan itu hanyalah awan hujan yang seketika berubah jadi badai untuk diriku sendiri.  Ku coba peluk raganya ku coba memahami hati dan sedihnya, ku temani bahagianya. Kucoba untuk ada seperti yang ibu minta saat masih di ranjang rumah sakit. Ku usahakan semuanya. Ku tau dia orang baik sebab ibu yang bilang demikian, sebab ibu orang baik karena itu aku ingin bersamanya. Bu ternyata aku salah, ku pikir perempuan baik juga pasti akan melahirkan laki-laki baik, ku pikir aku cukup untuknya ku pikir ia cukup bangga dengan aku ada di sisinya kupikir perasaan iba, perhatian dan kasih sayang yang ku curahkan untuknya adalah apa yang akan aku terima juga.  Hari itu ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dengan duniaku, masih ku pegang erat janjinya ketika ia bil...

Never Enough

Dan dengan takut-takut aku menakar kadar bahagia ku, takut-takut justru akan jadi racun bagi diriku. Ku tuang sedikit demi sedikit bagian dari dirimu agar aku merasa lega setiap harinya, agar merasa tenang jiwaku. semakin kesini semakin candu rasanya terkadang aku tuang terlalu banyak sampai rasanya campur aduk perasaanku. Terkadang aku lupa aku punya batasan, dan ku lewati garis batas itu hanya agar lebih bahagia. Pikirku jika terus bersamamu maka aku akan abadi merasa senang, candu itu menyerangku sampai aku lupa bagaimana caranya berhenti, setiap hari ku takar lebih banyak bagian dari dirimu semakin hari terasa pula aku tergila-gila, meronta-ronta menginginkan dirimu. Salah, kataku. Ini sudah jauh salah, bukan begini cara cinta bekerja, jika benar harusnya kamu merasa cukup setiap satu hari dengan takaran biasanya. Ucapan selamat pagi dan ungkapan hangat lainnya harusnya sudah membuatmu siap menjalani hari yang panjang. Bukan mengemis, mengais-ngais perhatian sampai akhirnya kadar p...