Langsung ke konten utama

LIES!




Dan ketika aku bertanya
Lalu kau jawab terbata...
Aku mulai mengerti, kamu tidak pernah benar-benar menginginkan aku sebagai tempat untuk istirahat di hari-hari lelahmu.


Bagaimana kamu bisa mudah sekali meyakinkan segala ragu ku dengan banyak kebohongan, bagaimana kamu bisa bilang kamu membutuhkan ku padahal kamu hanya sedang bosan dengan aktivitas mu. Bagaimana kamu bisa bilang kamu mencintai ku padahal kamu hanya berbual agar aku jadi budak mu.

....

Andai sekali saja kamu melihat ke arah ku lagi, dengan tatapan yang sama seperti awal mula kamu memaksa untuk meminta nomor telephone, agar bisa menghubungi ku, dengan alasan menanyakan basa basi
"Sedang apa?"
"Sudah makan?"
Atau memaksaku untuk makan di kantin yang sama setiap jam istirahat.
Tidak...
Kamu sudah berubah entah karena alasan apa.

Kamu bahkan hanya sekedar lalu saat berselisih jalan dengan ku, no..
Tidak ada
"Hai..." tidak ada
" pagi" " siang" atau "sore"

Kamu tau apa yg membuat ku benar-benar tak mampu membenci atau menyukai mu?

Aku membenci mu tapi kamu adalah banyak kalimat sederhana yang membuat ku tersenyum.
Aku menyukai mu tapi kamu adalah part terburuk dalam hidupku yang tak bisa kulupakan begitu saja.

...

Aku masih ingat ketika kamu bersikeras ingin aku menjadi milikmu, aku masih ingat jelas ketika kamu bilang
"Aku yakin dengan tali takdir yang mengikat kita, yang mempertemukan kita dan mengikat kita"

Hahh... bullshit, andai dulu kata itu tak membuat hati ku runtuh aku tidak akan semenderita ini mengingat mu, tidak seperih ini berharap kepadamu... bohong jika aku tak senang mendengar kalimat kotor itu.

Jadi kemana kamu ketika aku meminta keyakinan atas perasaan ku, dimana kamu ketika aku benar benar sudah tulus menyukai mu, dimana kamu ketika aku meminta kepastian atas segala kepalsuan yang kau beri...???

Kamu hanya bermain-main di atas keseriusan ku,
Kamu cuma bercanda di atas tulus ku,
Kamu cuma ingin bersenang-senang dengan caramu. Tanpa memikirkan perasaan org lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drowning

Aku tidak mencarimu lagi. Tidak dalam tumpukan ingatan atau album-album lama. Aku berhenti melangkah sejenak takut-takut menoleh kebelakang apa kau masih berdiri di sana, memastikan bahwa aku benar-benar sendiri kali ini, lengang bahkan dalam bentuk mimpi atau bayangan kau enggan hadir. Samar-samar terkadang garis bibirmu masih terlintas di kepala, terkadang aku tak sengaja berlinang air mata. Kurasa perjalanan cukup lama itu kini sudah berakhir. Hal yang tak pernah di mulai itu juga kini tak memiliki kata akhir, ia hanya selesai, tanpa sepatah kata, tanpa aba-aba. Dua manusia yang memilih menyerah pada jalan yang pernah mereka lalui bersama, memilih untuk merubah haluan, menceburkan diri lalu tenggelam di samudera yang dalam. Gelap Dingin Tak berniat kembali. Demi merasa baik-baik saja mereka hanya diam, tak ada patah kata atau sekedar saling sapa. Mereka memilih sembuh dengan caranya masing-masing. Menyelam ke kedalaman lalu mati pelan-pelan. 

Bu, Masih Tetap Ku Doakan

Bu titip salam untuk ayahku, aku tidak berani menceritakannya sendiri sebab takut ia sedih karena aku sedikit merasa tersakiti.  Bu, Maafkan aku karena ku pikir aku mampu menjaga dan menemaninya sampai tua sebab ternyata angan itu hanyalah awan hujan yang seketika berubah jadi badai untuk diriku sendiri.  Ku coba peluk raganya ku coba memahami hati dan sedihnya, ku temani bahagianya. Kucoba untuk ada seperti yang ibu minta saat masih di ranjang rumah sakit. Ku usahakan semuanya. Ku tau dia orang baik sebab ibu yang bilang demikian, sebab ibu orang baik karena itu aku ingin bersamanya. Bu ternyata aku salah, ku pikir perempuan baik juga pasti akan melahirkan laki-laki baik, ku pikir aku cukup untuknya ku pikir ia cukup bangga dengan aku ada di sisinya kupikir perasaan iba, perhatian dan kasih sayang yang ku curahkan untuknya adalah apa yang akan aku terima juga.  Hari itu ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dengan duniaku, masih ku pegang erat janjinya ketika ia bil...

Never Enough

Dan dengan takut-takut aku menakar kadar bahagia ku, takut-takut justru akan jadi racun bagi diriku. Ku tuang sedikit demi sedikit bagian dari dirimu agar aku merasa lega setiap harinya, agar merasa tenang jiwaku. semakin kesini semakin candu rasanya terkadang aku tuang terlalu banyak sampai rasanya campur aduk perasaanku. Terkadang aku lupa aku punya batasan, dan ku lewati garis batas itu hanya agar lebih bahagia. Pikirku jika terus bersamamu maka aku akan abadi merasa senang, candu itu menyerangku sampai aku lupa bagaimana caranya berhenti, setiap hari ku takar lebih banyak bagian dari dirimu semakin hari terasa pula aku tergila-gila, meronta-ronta menginginkan dirimu. Salah, kataku. Ini sudah jauh salah, bukan begini cara cinta bekerja, jika benar harusnya kamu merasa cukup setiap satu hari dengan takaran biasanya. Ucapan selamat pagi dan ungkapan hangat lainnya harusnya sudah membuatmu siap menjalani hari yang panjang. Bukan mengemis, mengais-ngais perhatian sampai akhirnya kadar p...