Langsung ke konten utama

Satu hari yang terlupa


     Hari itu dia bilang pengen ngomong serius tapi pengen face to face, kami ketemu sebentar di cafe dekat halte bus simpang 3 jalan sudarso.
Dia gak pernah serius kalo lagi ngomong, selalu becanda, selalu ketawa aku jadi bingung yang mana yg di omongin...
Tapi aku senang dia selalu becanda soal topik gak pernah becanda soal perasaan...

     Waktu itu langitnya mendung , sekitar pukul 16.13 aku minta di jemput plus di anterin ke toko digital buat service laptop ku yang rusak, padahal aku minta di jemput jm 2 dia datang 2 jam kemudian, gak papa...
katanya ban motornya sempat bocor pas mau kerumahku... pas sampai di toko ternyata tempat nya tutup, aku kesal luar biasa aku gak tau mesti nyalahin siapa. Waktu itu bulan ramadhan aku lupa detailnya kapan tapi saat itu sudah menjelang lebaran beberapa hari lagi. jalanan sesak banyak orang berlaluan dan singgah di tepi jalan untuk sekedar membeli takjil atau singgah di warung makan terdekat karena sudah dekat waktu berbuka...

     kami juga singgah di salah satu warung makan. Memesan dua mangkok bakso dan dua mangkok es buah... hari itu aku temenin dia buka puasa, karna aku gak puasa bisa di bilang itu bukan bukber, kalo susana mulai jadi canggung dia bakal ngomong hal yang lucu, contohnya,
"Ini es buahnya kemanisan, si ibu kalo bikin seharusnya jangan pake gula tadi"... "kenapa?" Kataku
" kan udah ada kamu"
"Ishh... najis gombal"
Aku selalu ketawa kalo dia ngomong, soalnya kadang suka ngasal.

     Karna takut kemalaman dan belum sempat shalat magrib aku langsung minta di antar pulang. Hari nya masih mendung, pas lagi diatas motor dia ngomong sesuatu.
"Langit nya gelap ya"
"Iya ya"
"Gak papa sekarang udah terang"
"Terang dari mana" aku bingung sambil menatapi langit, kok bisa ini disebut terang, pikirku
"Lah yang bilang langit nya terang siapa?"
"Kan kamu tadi"
"Maksudnya hati ku setelah ada kamu"
"Dihh apaan sii"
Sekali lagi kalimat yang aku ingat malam itu adalah.
"Lihat deh langit nya sepi"
"La terus aku harus apa? temenin biar gak kesepian?"
"Ihh jangan, kok kamu genit si"
"Lah kok aku?!"
"Tau kemana bintang nya pergi?"
"Kemana emang?"
"Nih lagi aku bonceng, tapi jangan cubit ,kamu kalo nyubit bikin kaget nanti kita jatoh lagi" seakan dia sudah tau apa yang ingin ku perbuat, tangan ku yang sdikit lagi sampai di pundak nya langsung terhenti , sambil ketawa gemes pengen jotos aku gak jadi nyubit.
"Apaan sii, receh"
"Gak papa receh yang penting kamu ketawa"
"Hahaha... iya nih aku udah ketawa"
"Udah jangan ketawa terus..."
"Emang kenapa, gak boleh?"
"Sah.. sah.. aja sih, tapi nanti aku tambah suka, emang kamu mau... hahaha"
"Diihhh apaan si, ngasal hahaha"



Satu hari yang terlupa
Cerpen Karya Suci Ramadhani

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bu, Masih Tetap Ku Doakan

Bu titip salam untuk ayahku, aku tidak berani menceritakannya sendiri sebab takut ia sedih karena aku sedikit merasa tersakiti.  Bu, Maafkan aku karena ku pikir aku mampu menjaga dan menemaninya sampai tua sebab ternyata angan itu hanyalah awan hujan yang seketika berubah jadi badai untuk diriku sendiri.  Ku coba peluk raganya ku coba memahami hati dan sedihnya, ku temani bahagianya. Kucoba untuk ada seperti yang ibu minta saat masih di ranjang rumah sakit. Ku usahakan semuanya. Ku tau dia orang baik sebab ibu yang bilang demikian, sebab ibu orang baik karena itu aku ingin bersamanya. Bu ternyata aku salah, ku pikir perempuan baik juga pasti akan melahirkan laki-laki baik, ku pikir aku cukup untuknya ku pikir ia cukup bangga dengan aku ada di sisinya kupikir perasaan iba, perhatian dan kasih sayang yang ku curahkan untuknya adalah apa yang akan aku terima juga.  Hari itu ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dengan duniaku, masih ku pegang erat janjinya ketika ia bil...

Untuk 1 hari yang melelahkan kamu butuh kalimat ini

Teruntuk siapapun yang sudah berjuang berjalan di jalan yang tidak mudah, sudah mau melangkah demi langkah, hingga akhirnya di titik ini, mari berterima kasih kepada diri kita sendiri. Untuk segala kerikil yang menghantam pelan di hidup kita ataupun angin kencang yang  menerpa hati ringkih kita yang setiap kali berusaha kuat bertahan untuk hidup satu hari lagi, mari berterima kasih kepada diri sendiri. Untuk orang-orang yang sudah bertahan dan menjadi kuat untuk satu detik saja, mari ucapakan terima kasih sekali lagi untuk tidak menyerah dengan dirimu sendiri. Mari apresiasi hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele karena satu kali hembusan napas yang kamu keluarkan pun masih menjadi manfaat bagi pohon yang mungkin ada di seberang jalan sana atau rumput kecil yang ada di ujung kelingking kaki mu. Kamu berharga❤️

Aku Bisa Apa?

Kepala riuh berkecamuk, katamu aku tak bisa menerima kurang mu yang satu itu. "Menjadi diam" Menjadi diam bagimu adalah kurang sebab mungkin aku terlalu berisik, padahal mungkin bagi sebagian manusia berisik adalah kurang. Tapi keduanya bukanlah kekurangan ia adalah sifat alamiah manusia ketika di hadapkan pada sebuah sesuatu, sebuah masalah, sebuah senang atau sebuah yang lain yang mungkin entah apa. Ku bilang aku terima semua yang ada padamu tapi kamu bersikeukuh aku adalah orang jahat sebab tak bisa memahami kurang mu dan ku katakan kita tidak sedang bertengkar soal kurang yang kita punya, kita hanya tidak semencinta sebesar itu sebab itu kita hanya bisa saling menyalahkan dan saling bekeras kepala. Ucapmu tidak kasar tapi tindakan mu menyakitkan, berkali-kali ku maafkan berkali-kali ku yakinkan perasaanku bahwa aku bisa bertahan tapi luka-luka itu berkumpul, satu per satu mulai menusuk menggerogoti hingga ke tulang dadaku menembus hatiku lalu membusuk menjadi kecewa yan...